MENYINGKAP KEBENARAN ALQURAN MELALUI ILMU PENGETAHUAN Oleh: Prof. Dr. Mohammad Ali, M.A. Dirjen Pendidikan Islam, Dep. Agama RI
Alquran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw yang sejak dari masa
turunnya sudah mendapatkan banyak tantangan, terutama dari orang-orang yang
memang menentang kerasulan Muhammad Saw. Mereka menganggap Alquran sebagai
syair karangan Muhammad dan bukan berasal dari Allah. Menanggapi hal itu, Allah
menyatakan dengan tegas bahwa Alquran bukanlah perkataan penyair (QS Al-Haqqah
[69]: 41). Selain itu, Allah juga menantang orang-orang yang senantiasa meragukan
kebenaran Alquran, baik dari kalangan jin dan manusia untuk membuat walaupun satu
ayat sebagaimana yang termaktub dalam Alquran. Sekali lagi Allah menegaskan bahwa
mereka tidak akan mampu membuatnya meskipun mereka saling bekerjasama (QS Al-
Isra’ [17]: 88).
Diantara kemukjizatan Alquran adalah ketinggian nilai bahasanya, sehingga diperlukan
penafsiran guna dapat memahaminya. Untuk itu, para mufassir dari masa ke masa
berusaha menghadirkan penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran dengan metode tertentu
dan telah menghasilkan banyak karya tafsir. Namun demikian, bukan berarti seluruh
sisi kebenaran Alquran sudah tertafsirkan semuanya, sehingga masih tetap dibutuhkan
keahlian dari para mufassir yang datang kemudian untuk melakukan penafsiran lagi.
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa Alquran laksana berlian, dari sudut manapun
orang memandang akan menampakkan keindahan. Begitu juga dengan para mufassir,
mereka dengan kemampuannya melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran
dengan metodenya masing-masing. Namun jika ada orang lain yang mau menafsirkan
Alquran, akan tetap bisa melihat Alquran dengan sudut pandang yang baru dan berbeda
dengan yang pernah ada sebelumnya. Apalagi jika penafsiran tersebut dikaitkan dengan
ilmu pengetahuan, yang senantiasa terus berkembang, sehingga akan semakin dapat
membuktikan bahwa Alquran benar-benar kitab yang diturunkan dari Allah Swt.
Salah satu bentuk penemuan menarik yang diungkap dalam Ensiklopedia ini adalah
kemukjizatan angka, khususnya angka tujuh yang memiliki banyak sekali petunjuk, baik
dalam Alquran dan Hadis maupun di alam. Bahkan pengulangan angka tujuh ini dalam
Alquran memunculkan sebuah sistem yang koheren, eksak, dan sulit terbantahkan.
Dalam surah Nuh [71] ayat 15 Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana
Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?”
Demikian pula dalam salah satu hadis yang disabdakan oleh Rasullullah Saw tentang
dosa-dosa besar, beliau membatasinya dengan tujuh macam: “Jauhilah tujuh dosa
besar” [HR Bukhari-Muslim]. Demikian pula halnya fenomena alam juga
memunculkan angka tujuh, yang dijadikan jumlah tingkatan langit dan bumi,
sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Thalaq [65] ayat 12: “Allah-lah yang
menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi”.
Kajian dan penafsiran Alquran dengan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan
(tafsiir bil ‘ilmi) seperti inilah yang belakangan banyak dilakukan oleh para ilmuwan
muslim. Pengungkapan kebenaran Alquran seperti ini diharapkan dapat menembus
batas keimanan. Artinya kebenaran konsep-konsep yang ada dalam Alquran tidak
hanya dapat dicerna dan diterima oleh orang-orang yang beragama Islam saja, tetapi
juga oleh orang lain yang mampu berpikir secara rasional dan mampu melihat
kebenaran secara obyektif tanpa tersekat oleh keyakinan yang dianutnya.
Salah satu usaha cerdas dan brilian yang menghadirkan penafsiran Alquran
dengan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan adalah Ensiklopedia Mukjizat
Alquran dan Hadis yang saat ini ada di tangan pembaca. Ensiklopedia ini disusun
dalam multi perspektif keilmuan, sehingga semakin menarik bagi pembaca dari latar
belakang kelimuan apa pun.
Khusus bagi dunia pendidikan, pentingnya ensiklopedia ini didasarkan pada
beberapa kebutuhan : (1) Kebutuhan menyediakan sumber bahan yang bermutu,
(2) Kebutuhan menawarkan pandangan keagamaan yang cocok untuk perkembangan
ilmu pengetahuan dan, (3) Kebutuhan mengembangkan kajian Alquran yang
multidisipliner. Buku seperti ini dapat memicu peningkatan mutu pendidikan yang
lebih utuh dan menyeluruh.
Karena itu, sudah selayaknya kalau kehadiran Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan
Hadis ini mendapatkan sambutan dan apresiasi yang tinggi dari umat Islam di
Indonesia serta dapat digunakan sebagai bahan referensi oleh lembaga pendidikan,
baik sekolah umum dan sekolah khusus yang berbasiskan agama Islam maupun
pondok pesantren.
Semoga kehadiran Ensiklopedia akan menambah dan memperkuat keyakinan
kita bahwa Alquran memang benar diturunkan dari sisi Allah Swt yang cocok untuk
menjadi pedoman dan tuntunan hidup bagi manusia dimana pun dan sampai kapan
pun (shaalihun likulli zamaan wa makaan).
Jakarta, November 2009
Prof. Dr. Mohammad Ali, M.A




Add A Comment