Archive for January, 2010

KOMENTAR TOKOH…..

Jan-25-2010 By leodonnie007

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Comic Sans MS”; panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

MENGHIDUPKAN ALQURAN - MEMBERDAYAKAN UMAT

Oleh: Prof. Dr. Din Syamsuddin

Ketua Umum PP Muhammadiyah

Nabi Muhammad Saw memiliki banyak keistimewaan yang tergolong mukjizat, dan mukjizat terbesar yang diterima beliau adalah Alquran. Sejumlah argumentasi menunjukkan bahwa Alquran merupakan kitab suci yang memiliki banyak kemukjizatan, misalnya: isinya yang tak dapat ditandingi oleh umat manusia, beritanya yang melampaui batas-batas logika manusia, terpelihara dari kepunahan dan penyimpangan, dan sebagainya. Namun di antara alasan paling kuat adalah karena Alquran merupakan kitab suci yang bisa menjadi petunjuk, pedoman hidup dan sumber inspirasi bagi lahirnya sebuah peradaban kemanusiaan yang religius. Berbeda dengan mukjizat Rasulullah Saw lainnya yang hanya menampilkan keajaiban temporal (misalnya: jemari Rasulullah Saw yang pernah memancarkan air, berjalan dinaungi awan hingga terhindar dari terik panas matahari, dan sebagainya), maka Alquran merupakan mukjizat yang bersifat abadi. Keabadian Alquran sebagai salah satu mukjizat bukan hanya terletak pada jaminan Allah Swt yang akan memelihara Alquran sepanjang masa (seperti dalam QS Al-Hijr [15]: 9), melainkan juga karena di dalamnya terdapat konsep-konsep universal yang bisa dijadikan pedoman bagi pembangunan peradaban umat manusia sepanjang masa. Atas dasar asumsi inilah Alquran menjadi kitab suci terakhir yang diberikan Allah Swt kepada nabi dan rasul-

Nya yang terakhir pula. Sejalan dengan hal di atas, posisi dan peran Nabi Muhammad Saw sebagai penerima wahyu Allah (Alquran) tentu sangat strategis. Kemukjizatan Alquran tidak akan memiliki efek sosial dan kemanusiaan yang signifikan tanpa peran Rasulullah Saw dalam menyampaikan risalah wahyu pada umatnya. Dalam hal ini, Rasulullah Saw sebagai penerima sekaligus penafsir tunggal Alquran memiliki kecerdasan luar biasa dalam mengkondisikan umatnya menjadi komunitas yang religius dan qur’ani.

Keluhuran akhlak dan budi pekerti Nabi Muhammad Saw menjadi mushaddiq

(peneguh, penguat, atau pembenar) atas kemukjizatan yang terkandung dalam Alquran. Posisi dan peran Nabi Muhammad Saw bisa disebut sebagai “data hidup” yang senantiasa berbicara dalam setiap dinamika peradaban umat manusia dari masa ke masa. Ibarat sebuah mutiara atau karya seni bernilai tinggi, Alquran membutuhkan penghayatan dan pengamalan agar menjadi hidup dan membumi di tengah-tengah masyarakat muslim khususnya dan umat manusia umumnya.

Kemukjizatan Alquran juga berkaitan dengan pemberitaan yang bersifat universal, seperti hitungan hari, bulan, tahun, penciptaan langit dan bumi, dan lainnya. Apa yang terkandung dalam pemberitaan Alquran tidak pernah mengalami perubahan maupun kekeliruan. Namun di sisi lain, kemukjizatan Alquran yang memiliki konsep universal masih memerlukan penafsiran dari para ulama. Atas dasar itulah, para ulama (kaum mufassir) kemudian menyusun banyak buku tafsir yang membahas Alquran dan kemukjizatan Alquran (i’jaz Alquran) dari beragam aspek seperti kebahasaan, sastra, ekologi, sains dan teknologi, humaniora, biologi, dan lainnya. Upaya tersebut harus disambut positif dan apresiatif, karena merupakan bagian dari ijtihad yang menurut hadis Rasulullah Saw menghasilkan dua pahala jika benar dan menghasilkan satu pahala jika salah.

Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis yang ada di tangan pembaca ini, adalah salah satu terobosan kreatif dan inovatif yang mencoba menggali berbagai kemukjizatan Alquran dan Hadis dari beragam aspek. Ensiklopedia ini berusaha menghadirkan “dialog” antara Alquran dan peradaban kemanusiaan agar terbangun paradigma yang lebih positif dan sinergis antara keduanya. Lebih dari itu, Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis ini disusun oleh banyak pakar dari multi disiplin ilmu sehingga menambah kuatnya daya tarik paket buku ini. Diharapkan kehadirannya dapat memberikan pencerahan dan menambah kesadaran umat Islam untuk membangun peradaban yang lebih baik di masa mendatang. Amin ya rabbal ‘alamin.

ALQURAN SEBAGAI SUMBER LAHIRNYA PERADABAN

Jan-25-2010 By leodonnie007

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Oleh: H.A. Hasyim Muzadi

Ketua Umum PBNU

Wacana seputar kemukjizatan Alquran bisa dicermati dari berbagai sudut pandang. Pertama, harus dipahami sebagai upaya meyakinkan golongan yang tidak mempercayai akan kebenaran Alquran sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Pada aspek ini, Allah Swt menantang kaum yang tidak beriman agar membuat ayat yang sebanding atau mirip (secara kualitas) dengan Alquran. Hal ini bisa dilihat misalnya dalam Surah Al-Baqarah [2] ayat 23 dan Surah Yunus [10] ayat 38. Kemukjizatan Alquran pada aspek pertama ini lebih ditujukan pada kelompok di luar umat Islam. Kedua, Alquran harus dipahami sebagai kitab suci yang akan memberi petunjuk dan bimbingan bagi kaum beriman, baik dalam kehidupan di dunia maupun kelak di akhirat. Misalnya dapat dilihat dalam Surah Al-Baqarah [2] ayat 2 dan 97, Surah Al- Taubah [9] ayat 33, dan Surah Al-Nahl [16] ayat 64. Kemukjizatan Alquran pada aspek

kedua ini ditujukan pada kelompok kaum beriman. Ketiga, kemukjizatan Alquran yang lebih mengarah pada aspek keilmuan, kemodernan, dan tantangan ilmiah di masa depan, termasuk informasi yang bercorak eskatologis, seperti surga, neraka, alam ghaib, dan lainnya. Aspek ketiga ini bisa dipahami sebagai upaya bahwa kitab suci Alquran membawa beragam informasi yang melebihi pengetahuan umat manusia yang hanya sebatas pada parameter fisik dan keduniaan. Berita tentang penciptaan 7 langit dan bumi, 7 lapis surga dan neraka, adanya hari pembalasan, malaikat, jin, setan, dan lainnya; adalah beberapa contoh seputar berita eskatologis yang sangat mustahil ditulis oleh manusia yang memiliki keterbatasan pengetahuan pada alam fisik dan metafisik. Dalam aspek ini, kemukjizatan Alquran bisa ditujukan pada seluruh komunitas umat manusia tanpa melihat agama, budaya, suku bangsa, dan lainnya.

Di samping itu, kemukjizatan Alquran harus dilihat secara komprehensif dengan melibatkan peran aktif umat Islam agar terbangun sinergi yang lebih positif dan produktif. Adapun aspek transenden Alquran harus didukung oleh aspek keduniaan dan penghayatan kemanusiaan. Inilah kira-kira pemahaman dari ayat innaa nahnu nazzalnadzdzikra wa innaa lahuu lahaafizhuun (”Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran

dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr [15] ayat 9). Upaya secara komprehensif dimaksudkan agar Alquran tidak hanya dipandang sebagai kitab suci yang memiliki kemukjizatan dan hanya dicerna pada batas-batas keyakinan yang bersifat pasif, tetapi kemukjizatan Alquran harus disertai dengan upayaupaya produktif dan kreatif dari umat Islam dengan menjadikan Alquran sebagai sumber

inspirasi bagi lahirnya peradaban kemanusiaan yang religius, santun, dan bijak.

Kemukjizatan Alquran juga harus dikaitkan dengan peran Alquran sebagai sumber pencerahan intelektual dan pemberdayaan masyarakat muslim agar menjadi salah satu komunitas umat manusia yang berdaulat, maju dan responsif terhadap tantangan

kemajuan zaman. Kejayaan umat Islam pernah ditorehkan dengan tinta emas sepanjang lebih dari tujuh abad lamanya; sejak abad ke-7 Masehi di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan para sahabat, hingga abad pertengahan yang melahirkan banyak ilmuwan

muslim. Pencapaian peradaban yang maju dan sukses dalam rentangan masa yang cukup lama itu, adalah karena Alquran dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi lahirnya peradaban kemanusiaan.

Oleh karenanya kehadiran Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis ini patut disambut secara positif oleh umat Islam sebagai salah satu cara membangun masyarakat muslim yang peka informasi, dan cinta ilmu pengetahuan. Kandungan yang ada dalam Ensiklopedia ini sangat layak mendapat apresiasi, mengingat disusunoleh para pakar yang memiliki disiplin keilmuan yang beragam, sehingga keragaman

itu dapat memperkaya kajian ilmiah dari aspek kemukjizatan Alquran. Kehadiran Ensiklopedia ini akan menjadi salah satu kontribusi positif dalam menambah khazanah intelektual Islam di Indonesia. Semoga mendapat ridha Allah Swt. Amin.

H.A. Hasyim Muzadi

Alquran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw yang sejak dari masa
turunnya sudah mendapatkan banyak tantangan, terutama dari orang-orang yang
memang menentang kerasulan Muhammad Saw. Mereka menganggap Alquran sebagai
syair karangan Muhammad dan bukan berasal dari Allah. Menanggapi hal itu, Allah
menyatakan dengan tegas bahwa Alquran bukanlah perkataan penyair (QS Al-Haqqah
[69]: 41). Selain itu, Allah juga menantang orang-orang yang senantiasa meragukan
kebenaran Alquran, baik dari kalangan jin dan manusia untuk membuat walaupun satu
ayat sebagaimana yang termaktub dalam Alquran. Sekali lagi Allah menegaskan bahwa
mereka tidak akan mampu membuatnya meskipun mereka saling bekerjasama (QS Al-
Isra’ [17]: 88).
Diantara kemukjizatan Alquran adalah ketinggian nilai bahasanya, sehingga diperlukan
penafsiran guna dapat memahaminya. Untuk itu, para mufassir dari masa ke masa
berusaha menghadirkan penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran dengan metode tertentu
dan telah menghasilkan banyak karya tafsir. Namun demikian, bukan berarti seluruh
sisi kebenaran Alquran sudah tertafsirkan semuanya, sehingga masih tetap dibutuhkan
keahlian dari para mufassir yang datang kemudian untuk melakukan penafsiran lagi.
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa Alquran laksana berlian, dari sudut manapun
orang memandang akan menampakkan keindahan. Begitu juga dengan para mufassir,
mereka dengan kemampuannya melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran
dengan metodenya masing-masing. Namun jika ada orang lain yang mau menafsirkan
Alquran, akan tetap bisa melihat Alquran dengan sudut pandang yang baru dan berbeda
dengan yang pernah ada sebelumnya. Apalagi jika penafsiran tersebut dikaitkan dengan
ilmu pengetahuan, yang senantiasa terus berkembang, sehingga akan semakin dapat
membuktikan bahwa Alquran benar-benar kitab yang diturunkan dari Allah Swt.
Salah satu bentuk penemuan menarik yang diungkap dalam Ensiklopedia ini adalah
kemukjizatan angka, khususnya angka tujuh yang memiliki banyak sekali petunjuk, baik
dalam Alquran dan Hadis maupun di alam. Bahkan pengulangan angka tujuh ini dalam
Alquran memunculkan sebuah sistem yang koheren, eksak, dan sulit terbantahkan.
Dalam surah Nuh [71] ayat 15 Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana
Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?”
Demikian pula dalam salah satu hadis yang disabdakan oleh Rasullullah Saw tentang

dosa-dosa besar, beliau membatasinya dengan tujuh macam: “Jauhilah tujuh dosa

besar” [HR Bukhari-Muslim]. Demikian pula halnya fenomena alam juga
memunculkan angka tujuh, yang dijadikan jumlah tingkatan langit dan bumi,
sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Thalaq [65] ayat 12: “Allah-lah yang
menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi”.
Kajian dan penafsiran Alquran dengan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan
(tafsiir bil ‘ilmi) seperti inilah yang belakangan banyak dilakukan oleh para ilmuwan
muslim. Pengungkapan kebenaran Alquran seperti ini diharapkan dapat menembus
batas keimanan. Artinya kebenaran konsep-konsep yang ada dalam Alquran tidak
hanya dapat dicerna dan diterima oleh orang-orang yang beragama Islam saja, tetapi
juga oleh orang lain yang mampu berpikir secara rasional dan mampu melihat
kebenaran secara obyektif tanpa tersekat oleh keyakinan yang dianutnya.
Salah satu usaha cerdas dan brilian yang menghadirkan penafsiran Alquran
dengan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan adalah Ensiklopedia Mukjizat
Alquran dan Hadis yang saat ini ada di tangan pembaca. Ensiklopedia ini disusun
dalam multi perspektif keilmuan, sehingga semakin menarik bagi pembaca dari latar
belakang kelimuan apa pun.
Khusus bagi dunia pendidikan, pentingnya ensiklopedia ini didasarkan pada
beberapa kebutuhan : (1) Kebutuhan menyediakan sumber bahan yang bermutu,
(2) Kebutuhan menawarkan pandangan keagamaan yang cocok untuk perkembangan
ilmu pengetahuan dan, (3) Kebutuhan mengembangkan kajian Alquran yang
multidisipliner. Buku seperti ini dapat memicu peningkatan mutu pendidikan yang
lebih utuh dan menyeluruh.
Karena itu, sudah selayaknya kalau kehadiran Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan
Hadis ini mendapatkan sambutan dan apresiasi yang tinggi dari umat Islam di
Indonesia serta dapat digunakan sebagai bahan referensi oleh lembaga pendidikan,
baik sekolah umum dan sekolah khusus yang berbasiskan agama Islam maupun
pondok pesantren.
Semoga kehadiran Ensiklopedia akan menambah dan memperkuat keyakinan
kita bahwa Alquran memang benar diturunkan dari sisi Allah Swt yang cocok untuk
menjadi pedoman dan tuntunan hidup bagi manusia dimana pun dan sampai kapan
pun (shaalihun likulli zamaan wa makaan).
Jakarta, November 2009
Prof. Dr. Mohammad Ali, M.A